Selasa, 24 Juni 2014

Iran yang Menyebalkan dan Messi yang Menawan


Piala Dunia 2014 hampir memasuki putaran babak 16 besar. Banyak drama dan kejadian menarik selama perhelatan tu digelar di Brasil Hingga pertengahan Juli 2014 nanti. Banyak partai yang saya tonton dan tidak tonton dalam piala dunia kali ini, maklum jadwalnya bukan pagi seperti Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang. Maklum harus ngantor.

Sebagai salah satu penonton sepakbola di antara sekitar 240 juta rakyat Indonesia dan sekitar 5 Milyar penduduk dunia, saya mengamati satu hal menarik dari pertandingan yang saya tonton secara utuh. Yaitu laga Argentina VS Iran.

Dalam laga Grup F Piala Dunia 2014 di Estadio Mineirao, Belo Horizonte, Sabtu (21/6/2014) itu, saya sangat salut sekaligus kesal dengan Iran. Sebagai salah satu wakil Asia bersama dengan Jepang, Korea Selatan dan Australia, Iran sungguh menyebalkan sebenarnya, walaupun saya bukan pendukung Argentina.

Pelatih Carlos Quiroez berhasil memberikan taktik yang berhasil dijalankan dengan baik oleh anak-anak asuhannya di lapangan. Saya memang bukan pengamat, dan bukan penganalisis yang handal. Saya tidak terlalu peduli dengan statistic, ataupun shoot on goal, atau berapa kali operan / passing yang dilakukan serta berapa kali jumlah penyelamatan dilakukan oleh penjaga gawang, karena Bola itu Bundar.

Ya, karena bundar, statistic atau apapun hanyalah data di atas kertas, hasil permainan di lapangan serta kuasa tuhan lebih menentukan hasil. Maupun strategi 4-3-3 atau 4-4-2 atau 4-3-2-1 itu hanyalah strategi. Segalanya bisa berbeda 360 derajat di lapangan.

Di atas kertas, Juara Piala Dunia 2 kali, Argentina seharusnya bisa dengan mudah mengalahkan wakil Asia, Iran. Tapi kenyataannya selama 90 Menit permainan digulirkan, Argentina tidak berhasil membobol gawang Iran yang di kawal Alireza Haghighi.



Terbukti Carlos Quiroz sebagai pelatih berhasil untuk mengunci serangan Argentina yang dihuni oleh pemain-pemain berkelas, seperti Gonzalo Higuain, Sergio Aguero sampai Lionel Messi. Bahkan dalam beberapa kali skema serangan balik yang dilakukan pemain-pemain Iran, berhasil mengancam gawang Argentina, namun performa Sergio Romero juga sangat apik pada malam itu.



Namun dibalik semua atatistik ataupun permainan yang terjadi selama 90 menit, Lionel Messi memecah kebuntuan Argentina dengan gol semata wayang yang dicetak pada menit 90+1.

Terbukti, sepakbola memang memiliki gayanya masing-masing. Spanyol dengan Tiki-takanya telah tersingkir, Italia yang ingin meninggalkan Cattenacio harus melakoni partai Hidup mati dengan Uruguay untuk memastikan satu tempat di babak 16 besar mendampingi Kosta Rika. Inggris yang Kick and Rush-nya luntur pun harus mengemas koper lebih awal.

Starategi bertahan dan serangan balik ala Iran terbukti cukup ampuh dalam sepakbola modern, Iran hanya dikalahkan Messi serta konsentrasi yang menurun menjelang akhir laga, bukan dikalahkan oleh permainan kolektif Argentina. Walapun secara filosofi pertahan terbaik adalah menyerang.   

Contoh lain adalah bagaimana Atletico Madrid juara liga Spanyol dengan menahan Imbang Bercelona 1-1 di laga akhir di Camp Nou, Diego Simeone menginstruksikan bertahan dan melakukan serangan balik cepat ketika mendapatkan kesempatan.

Madrid juga melakukan hal yang sama kala menjalani laga semifinal kontra Bayern Muenchen yang dilatih oleh Pep Guardiola yang notabene menukangi Barcelona sebelum hijrah ke sana untuk melaju ke final demi  merengkuh gelar la decimal mereka di liga champions.

Metode pertahanan rapat serta serangan balik cepat terbukti sangat jitu. Sayangnya Iran memang kurang beruntung dan pemain-pemain-nya masih minim dengan pengalaman, tidak seperti Real Madrid dan Aletico Madrid yang memiliki barisan depan yang tajam dan penuh dengan jam terbang dalam level tinggi.

Inti dari tulisan ini sebenarnya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya mengutarakan pendapat pribadi yang pasti banyak pro kontra-nya. Karena pertahanan sebaik apapun bisa ditembus.

Namun, bisa dibayangkan, apabila anda seorang Fans berat Argentina dan Lionel Messi yang menyaksikan laga penyisihan Grup F kemarin melawan Iran, dengan hasil akhir 0-0 atau 0-1 untuk Iran, saya tidak akan membayangkan kekesalan anda dengan taktik keren Iran dan runtuhnya kerasi menyerang sepakbola Argentina.

Gambar; diambil dari Google Image.