Piala Dunia 2014
hampir memasuki putaran babak 16 besar. Banyak drama dan kejadian menarik
selama perhelatan tu digelar di Brasil Hingga pertengahan Juli 2014 nanti. Banyak
partai yang saya tonton dan tidak tonton dalam piala dunia kali ini, maklum
jadwalnya bukan pagi seperti Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang. Maklum harus
ngantor.
Sebagai salah satu
penonton sepakbola di antara sekitar 240 juta rakyat Indonesia dan sekitar 5
Milyar penduduk dunia, saya mengamati satu hal menarik dari pertandingan yang
saya tonton secara utuh. Yaitu laga Argentina VS Iran.
Dalam laga Grup F Piala Dunia
2014 di Estadio Mineirao, Belo Horizonte, Sabtu (21/6/2014)
itu, saya sangat
salut sekaligus kesal dengan Iran. Sebagai salah satu wakil Asia bersama dengan
Jepang, Korea Selatan dan Australia, Iran sungguh menyebalkan sebenarnya,
walaupun saya bukan pendukung Argentina.
Pelatih Carlos Quiroez berhasil memberikan
taktik yang berhasil dijalankan dengan baik oleh anak-anak asuhannya di
lapangan. Saya memang bukan pengamat, dan bukan penganalisis yang handal. Saya tidak
terlalu peduli dengan statistic, ataupun shoot on goal, atau berapa kali operan
/ passing yang dilakukan serta berapa kali jumlah penyelamatan dilakukan oleh penjaga
gawang, karena Bola itu Bundar.
Ya, karena bundar, statistic atau apapun
hanyalah data di atas kertas, hasil permainan di lapangan serta kuasa tuhan
lebih menentukan hasil. Maupun strategi 4-3-3 atau 4-4-2 atau 4-3-2-1 itu
hanyalah strategi. Segalanya bisa berbeda 360 derajat di lapangan.
Di atas kertas, Juara Piala Dunia 2 kali,
Argentina seharusnya bisa dengan mudah mengalahkan wakil Asia, Iran. Tapi kenyataannya
selama 90 Menit permainan digulirkan, Argentina tidak berhasil membobol gawang
Iran yang di kawal Alireza Haghighi.
Terbukti Carlos Quiroz sebagai pelatih
berhasil untuk mengunci serangan Argentina yang dihuni oleh pemain-pemain
berkelas, seperti Gonzalo Higuain, Sergio Aguero sampai Lionel Messi. Bahkan dalam
beberapa kali skema serangan balik yang dilakukan pemain-pemain Iran, berhasil
mengancam gawang Argentina, namun performa Sergio Romero juga sangat apik pada
malam itu.
Namun dibalik semua atatistik ataupun
permainan yang terjadi selama 90 menit, Lionel Messi memecah kebuntuan
Argentina dengan gol semata wayang yang dicetak pada menit 90+1.
Terbukti, sepakbola memang memiliki
gayanya masing-masing. Spanyol dengan Tiki-takanya telah tersingkir, Italia
yang ingin meninggalkan Cattenacio harus melakoni partai Hidup mati dengan Uruguay
untuk memastikan satu tempat di babak 16 besar mendampingi Kosta Rika. Inggris
yang Kick and Rush-nya luntur pun harus mengemas koper lebih awal.
Starategi bertahan dan serangan balik ala
Iran terbukti cukup ampuh dalam sepakbola modern, Iran hanya dikalahkan Messi
serta konsentrasi yang menurun menjelang akhir laga, bukan dikalahkan oleh
permainan kolektif Argentina. Walapun secara filosofi pertahan terbaik adalah
menyerang.
Contoh lain adalah bagaimana Atletico
Madrid juara liga Spanyol dengan menahan Imbang Bercelona 1-1 di laga akhir di
Camp Nou, Diego Simeone menginstruksikan bertahan dan melakukan serangan balik
cepat ketika mendapatkan kesempatan.
Madrid juga melakukan hal yang sama kala
menjalani laga semifinal kontra Bayern Muenchen yang dilatih oleh Pep Guardiola
yang notabene menukangi Barcelona sebelum hijrah ke sana untuk melaju ke final
demi merengkuh gelar la decimal mereka
di liga champions.
Metode pertahanan rapat serta serangan
balik cepat terbukti sangat jitu. Sayangnya Iran memang kurang beruntung dan
pemain-pemain-nya masih minim dengan pengalaman, tidak seperti Real Madrid dan
Aletico Madrid yang memiliki barisan depan yang tajam dan penuh dengan jam
terbang dalam level tinggi.
Inti dari tulisan ini sebenarnya tidak
bermaksud apa-apa, saya hanya mengutarakan pendapat pribadi yang pasti banyak
pro kontra-nya. Karena pertahanan sebaik apapun bisa ditembus.
Namun, bisa dibayangkan, apabila anda
seorang Fans berat Argentina dan Lionel Messi yang menyaksikan laga penyisihan
Grup F kemarin melawan Iran, dengan hasil akhir 0-0 atau 0-1 untuk Iran, saya
tidak akan membayangkan kekesalan anda dengan taktik keren Iran dan runtuhnya kerasi
menyerang sepakbola Argentina.
Gambar; diambil dari Google Image.

